Ansor: Gerakan Kader atau Sekadar Seremonial? Muhasabah di Momen Harlah

April 24, 2026

_"Organisasi besar jarang runtuh karena serangan dari luar, tetapi sering melemah karena kehilangan keberanian mengkritik dirinya sendiri.”_

Di momentum Harlah Gerakan Pemuda Ansor, sejak lahir tahun 1934 hingga 2026, saya memaknai peringatan ini bukan hanya ruang perayaan, tetapi juga ruang muhasabah. Sebab autokritik bagi organisasi bukan ancaman, melainkan bentuk cinta yang jujur.

Tulisan ini pun saya letakkan dalam semangat itu.

Saya teringat tahun 2024 ketika Gus Abdulloh Hamid selaku Rektor Ansor University, yang akrab saya panggil Mas Hamid karena saya menganggap beliau seperti kakak kandung sendiri, mengajak saya bergabung dalam Ansor University Jawa Timur, sebuah inisiatif branding baru di bidang Pendidikan dan Pengembangan SDM.

Ajakan itu saya anggap sangat serius, sebab Mas Hamid datang langsung ke rumah bersama tiga sahabat PMII, salah satunya Ketua Kopri PMII Jawa Timur, untuk berdiskusi mengenai gagasan penguatan kapasitas kader melalui program Beasiswa IELTS bagi kader perempuan. Bagi saya, pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi organisatoris, melainkan penanda adanya ikhtiar besar untuk mulai membangun kaderisasi yang lebih visioner.

Saya sempat ragu menerima amanah itu. Bukan karena tidak percaya, tetapi karena saya tahu membangun kader melalui pendidikan bukan kerja ringan. Namun saya memilih berkhidmat, karena saya percaya organisasi besar harus dibangun bukan hanya dengan loyalitas, tetapi juga dengan gagasan.

Saya datang dengan satu keresahan sekaligus mimpi: bagaimana kader-kader muda NU tidak hanya kuat secara ideologis dan sosial, tetapi juga punya daya saing global.

Karena latar belakang saya sebagai Managing Director Kampung Inggris AI, saya ingin menyumbangkan sesuatu dari bidang yang saya tekuni, master English through critical thinking.

Di Kampung Inggris AI, kami mengembangkan pendekatan belajar bahasa yang bukan dengan hafalan grammar, tetapi berbasis critical language learning, komunikasi aktif, thinking in English, hingga pendekatan AI-assisted learning. Belakangan kami juga mengembangkan MyThinkBahasa, sebuah pendekatan yang menekankan bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai instrumen berpikir, bernalar, dan membangun perspektif.

Bagi saya ini penting, sebab belajar bahasa seharusnya tidak berhenti pada “bisa bicara”, tetapi melatih critical thinking, daya baca global, dan kesiapan kader memasuki percakapan dunia.

Dari semangat itu lahirlah beberapa inisiatif seperti Ngaji Inggris dan Kitab Kuning, hingga Ramadan Al-Wasathiya Academy: Intensive English, Arabic, and Turats Studies sebagai ikhtiar kecil mempertemukan tradisi keilmuan pesantren dengan kompetensi global. Bahkan belakangan kami juga menggagas Beasiswa 50% untuk kader Ansor pada program Advanced IELTS, sebagai upaya membuka akses kader menuju daya saing internasional, meski secara jujur, bahkan poster program itu pun belum kunjung rampung, sesuatu yang saya harap segera bisa dituntaskan.

Saya membayangkan ini bisa menjadi ikhtiar kecil menyiapkan kader NU yang suatu hari punya skor IELTS, belajar ke luar negeri, lalu kembali mengabdi membangun pendidikan umat.

Namun dari ikhtiar-ikhtiar itulah justru muncul kegelisahan saya. Pada program awal, hanya satu kader Ansor yang mendaftar, sementara tiga peserta lainnya mengetahui program tersebut melalui jejaring Ansor. Bahkan pada program tahun 2026, tidak satu pun peserta mendaftar, meskipun program itu telah mendapat perhatian dan instruksi langsung dari Ketua PW Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur.

 

Di titik ini saya bertanya, bukan dengan nada menyalahkan, tetapi dengan kegelisahan:

Apakah kita terlalu bersemangat di ruang seremonial, tetapi belum cukup bersemangat di ruang pengembangan intelektual?

Apakah kaderisasi kita masih sering dipahami sebagai mobilisasi kegiatan, bukan ekosistem belajar?

Saya sadar, ini pengalaman yang sangat terbatas dalam ruang Ansor University, bukan gambaran menyeluruh tentang Ansor secara keseluruhan. Saya tidak tahu dinamika bidang lain, dan tidak sedang menggeneralisasi kerja luar biasa banyak kader di berbagai level.

Tetapi justru karena ini pengalaman nyata yang saya alami, saya merasa penting menyampaikannya.

Apalagi kegelisahan semacam ini saya tahu tidak saya rasakan sendirian. Seorang sahabat pengurus Ansor tingkat bawah, saat kami ngopi dua hari lalu, juga menyampaikan keresahan serupa: semangat gerakan kadang sangat tinggi ketika momentum-momentum tertentu datang, tetapi kultur belajar dan penguatan kapasitas kader belum selalu tumbuh sebagai kebiasaan bersama. Keresahan ini sejatinya ingin saya sampaikan langsung kepada Pak Ketua, tetapi karena belum memiliki kesempatan bertemu secara langsung, terpaksa saya titipkan melalui tulisan ini.

Jika itu benar, maka ini bukan kritik personal, melainkan bahan refleksi kolektif.

Saya percaya Ansor terlalu besar jika hanya kuat menjadi penggerak seremonial.

Dan terus terang, saya juga menyimpan harapan lain: semoga Ansor tidak hanya hadir sebagai penggerak politik lima tahunan, tetapi sungguh menjadi gerakan kader yang melahirkan pemikir, pendidik, inovator, dan pembaru sosial.

Karena politik penting, tetapi organisasi kader tidak boleh direduksi hanya menjadi mesin momentum.

Kader militan penting. Tapi kader intelektual, policy thinker, dan produsen gagasan juga sama pentingnya.

Ansor seharusnya mampu menjadi keduanya.

Momentum Harlah ini mungkin waktu yang baik untuk bertanya bersama:

- Sudahkah kaderisasi kita menumbuhkan tradisi ilmu?

- Sudahkah organisasi memberi ruang cukup bagi eksperimen gagasan kader?

- Sudahkah kita serius membangun kader global, bukan hanya kader struktural?

Saya bukan kader terbaik. Saya hanya orang kecil yang ingin berbuat banyak di rumah ini.

Karena itu autokritik ini lahir bukan dari kekecewaan, melainkan harapan.

Harapan agar Ansor tidak hanya kuat menjaga warisan, tetapi juga berani memimpin masa depan, sebagaimana semangat yang selalu didengungkan saat pelantikan: “Navigator Ansor Masa Depan.” Bagi saya, tagline itu bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita yang seharusnya terus dihidupkan dalam gerakan dan kaderisasi.

Sebab pada akhirnya, bentuk cinta tertinggi kepada organisasi bukan hanya merayakan sejarahnya, tetapi ikut menjaga agar ia terus bertumbuh.

Seremoni penting. Politik penting. Tetapi kaderisasi yang melahirkan ilmu, manfaat, dan peradaban, itu yang jauh lebih penting.

Saya, Darwis, hanya seorang kader Ansor, ingin mengucapkan: Selamat Harlah ke-92 Gerakan Pemuda Ansor. Semoga Ansor terus menjadi rumah pengabdian, ruang kaderisasi, dan gerakan yang setia merawat tradisi sekaligus berani menavigasi masa depan.

Khusus internal Ansor University Jawa Timur saja. 🙏🙏🙏

Area Iklan
[ Berita Lainnya ]

Selalu Update, Selalu Relevan.

CERDASKAN BANGSA
CERDASKAN BANGSA